Kaleidoskop Serikat Jesus Provinsi Indonesia dalam 50 tahun terakhir

8 September 1971.

Hari Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Pada hari itu, dalam sebuah acara sederhana di Wisma Syantikara, Yogyakarta, Pater Pedro Arrupe, pemimpin umum Serikat Jesus yang datang dari Roma, meresmikan berdirinya Provinsi Indonesia Serikat Jesus. Pater Pedro Arrupe meneruskan  usaha pendahulunya, Pater Johannes Baptista Janssens, yang lima belas tahun sebelumnya, pada tanggal 4 Februari 1956, memisahkan Missio Javensis dari “ibu kandungnya”  Provinsi Nederland menjadi vice-provinsi independens kali ini dengan nama “Indonesia” bukan lagi dengan nama “Jawa” dan dipersiapkan menjadi sebuah provinsi mandiri. Sejak tahun 1967 kepemimpinan sudah dipegang oleh orang Indonesia sendiri, Pater Antonius Soenarja. Ia juga  yang diangkat menjadi provinsial pertama.

Kami dengan ikhlas mengakui, bahwa provinsi kita provinsi yang miskin harta, tetapi harapan kita ada pada hasil karya yang menakjubkan dan pada jumlah panggilan kita, yang sekadar menjamin hari depan,” demikian Pater Soenarja menulis dalam sebuah surat setelah mengikuti pertemuan para pimpinan provinsi di Taiwan pada tahun 1970.

Kiranya memang demikian. Salah satu kekuatan yang meyakinkan Pater Jenderal untuk mendirikan provinsi ini ada lah pada jumlah anggotanya. Pada tahun 1956, Vice Provinsi Indonesia beranggotakan 244 Jesuit, terdiri dari 139 imam, 78 skolastik, dan 27 bruder. Dari jumlah itu, tidak sampai 40% adalah Jesuit Indonesia, yakni 97 Jesuit. Pada tahun 1971, provinsi yang baru diresmikan memiliki 333 anggota, dengan komposisi 176 Jesuit Indonesia dan 157 Jesuit Misionaris.

Dalam dekrit pendirian provinsi, Pater Arrupe menuliskan bahwa tidak seperti di banyak tempat lain di mana jumlah anggota mulai merosot, di Indonesia justru mengalami peningkatan “dan dari jumlah itu, sebagian besar lahir di tanah air ini”.

Kehadiran Serikat Jesus di Nusantara bisa ditelusuri ke dalam dua bagian. Pertama, kedatangan Pater Fransiskus  Xaverius di Maluku tahun 1946 yang disusul dengan gelom bang kehadiran Jesuit dari Portugal dan Spanyol sampai 1677. Selama 130 tahun itu tercatat 81 anggota Serikat Jesus berkarya di Misi Maluku.

Kedua ialah kedatangan para misionaris dari Belanda pada tahun 1859 lewat orang-orang seperti Pater Martinus van den Elzen dan Pater Joannes Baptista Palinkxs. Kedatangan misionaris  Belanda inilah yang kemudian menghasilkan Jesuit Indonesia, dan pada akhirnya menjadi Serikat Jesus Provinsi Indonesia.

Dekret Propaganda Fide yang mendirikan prefektur apos tolik baru sejak 1902 – 1927, membantu proses discernment Serikat Jesus mengenai kekurangan tenaga dan kebutuhan untuk berkonsentrasi pada daerah tertentu. Tentu saja ini juga memberi peluang bagi perkembangan keanekaragaman kehadiran tarekat-tarekat lain di wilayah Indonesia. Serikat Jesus mulai memusatkan karyanya di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jakarta ketika tahun 1940 Vikariat Semarang didirikan dan Mgr. Albertus Soegijapranata, seorang Jesuit yang menjadi uskup pribumi yang pertama.

Sebagai sebuah provinsi baru dalam Serikat Jesus, Pater Paulus Wiryono Priyotamtama, Provinsial (1996 – 2002) melihatnya sebagai buah  dari kepercayaan dan “kemartiran” para misionaris dari luar negeri. Sebagian besar frater menjalani formasi di Indonesia dengan para formator yang sebagian besar dari Indonesia juga. Perhatian pada aspek formasi menjadi perhatian penting setelah Serikat Jesus Indonesia menjadi Provinsi. Provinsi mengirimkan tenaga-tenaga formator ke Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan (1912-sekarang), Seminari Menegah Wacana Bakti, Jakarta (1988 – sekarang) dan Seminari Menengah St. Yudas Thadeus di Langgur (1974-1988). Pada tahun 2019, satu orang Jesuit ikut menjadi formator di Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop, dan 2021 satu lagi ikut menjadi formator di Seminari Menengah St. Laurensius Ketapang. Perhatian pada formasi calon imam diosesan  juga mendapat perhatian dengan mengirimkan tenaga pembimbing rohani Seminari Tinggi St. Petrus Pematang Siantar (sejak 1988), Seminari Tinggi Interdiosesan Giovanni XXIII di Malang (sejak 1989), TOR Keuskupan Agung Jakarta (1981 – 2018), dan sejak 2019 ke TOR Interdiosesan di Malang.

Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara di Jakarta dan Fakultas Teologi Wedhabakti, di Yogyakarta menjadi tempat formasi intelektual yang dikelola bersama. Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Ordo Fratrum Minorum (OFM) dan Serikat  Jesus mengelola STF Driyakara dengan komitmen penyediaan tenaga-tenaga pengajar dan administrasi untuk pendidikan filsafat baik untuk pendidikan imam maupun awam. Komitmen yang sama disepakati oleh Serikat Jesus bersama dengan Keuskupan Agung Semarang dan Missionarii Sanctae Familiae (MSF) untuk pendidikan teologi.

Perhatian pada pendidikan tinggi merupakan bagian pelayanan yang cukup besar dalam Provinsi. IKIP Sanata Dharma yang berubah menjadi Universitas Sanata Dharma pada tahun 1992 menjadi bagian penting pelayanan pendidikan tinggi. Dari yang dulunya menghasilkan guru-guru yang handal, Universitas Sanata Dharma berkembang menghasilkan tenaga-tenaga terdidik untuk program S1, S2 dan S3.

Perhatian pada pendidikan kejuruan atau vokasi juga sudah muncul sejak lama dengan SMK Mikael, SMK PIKA,  Politeknik ATMI (Surakarta dan Cikarang), Politeknik Mekatronika Sanata Dharma, dan Akademi PIKA. Akademi PIKA akhirnya diserahkan pengelolaannya kepada pihak ketiga berdasarkan keputusan Examen Karya Provinsi 2017, sementara Mekatronika Sanata Dharma digabungkan kembali dengan Universitas Sanata Dharma. Kedua sekolah kejuruan SMK Mikael dan SMK PIKA memiliki fokus tersendiri dengan model pembelajaran terkonsentrasi pada praktek untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang terampil dan siap bekerja.

Pendidikan di sekolah menengah dilayani Serikat Jesus melalui kolese-kolese milik Serikat Jesus ataupun yang dikelola Serikat Jesus. Kolese-kolese ini menjadi sekolah sekolah yang berusaha mendidik siswa yang berkarakter dengan tradisi pendidikan Jesuit yang dikenal dengan Paradigma Pedagogi Ignatian. Dokumen terbaru berjudul “Sekolah Jesuit Tradisi Hidup Abad ke-21, Discernment Berkelanjutan” menggariskan “Sepuluh Penanda Sekolah Jesuit” yang menantang lembaga-lembaga pendidikan Jesuit untuk terus melanjutkan pembicaraan dan pencarian mereka.

Di samping itu, Serikat Jesus juga mengelola sekolah dasar dan menengah dalam rumpun Yayasan Kanisius Pendidikan di Keuskupan Agung Semarang dan Perkumpulan Strada di Keuskupan Agung Jakarta. Yayasan Kanisius sudah berusia 103 tahun, sedangkan Perkumpulan Strada sudah berkarya selama 97 tahun. Saat ini kedua lembaga  tersebut menaungi 258 sekolah dengan lebih dari 40.000  siswa. Keduanya menghadapi tantangan yang berat sebagai sekolah swasta yang harus membiayai dirinya sendiri di tengah persaingan dunia pendidikan dan regulasi pemerintah yang ketat.

Rumah Retret dan Pusat Spiritualitas Girisonta memegang peran penting dalam pengembangan formasi spiritual  bagi para religius dari berbagai macam tarekat di Indonesia. Sementara itu Rumah Retret Panti Semedi memainkan peran dalam formasi spiritualitas rekan kerja awam Seri kat Jesus Indonesia. Mulai tahun 2021, Provinsial menunjuk Pater Agustinus Setyodarmono yang bertempat tinggal di RR Panti Semedi untuk menjadi animator spiritualitas bagi  rekan-rekan awam. Penunjukkan ini memperlihat prioritas Provinsi yang melihat potensi besar kaum awam dalam penyebaran spiritualitas Ignatian.

Jesuit Indonesia hadir dalam pelayanan paroki-paroki yang merupakan bagian penting dalam pembangunan umat di tingkat keuskupan. Keuskupan Agung Jakarta dan Semarang merupakan dua tempat utama bagi pelayanan di paroki. Setelah Paroki Kristus Sahabat Kita Nabire, dan Paroki St. Yohanes Pemandi, Waghete, di wilayah Keuskupan Timika, Serikat Jesus Provinsi Indonesia menambahkan Praparoki St. Maria, Botong Keuskupan Ketapang. Dalam  pertemuan para pastor paroki di Semarang ditemukan kekhasan pelayanan paroki-paroki SJ yang terletak dalam dimensi sosial kemasyarakatan. Pelayanan paroki memberi pelayanan integral terhadap kebutuhan spiritual, sakramental dan sosial umat.

Menemani kebutuhan pelayanan sakramental liturgis, Pater Karl Edmund Prier memulai Pusat Musik Liturgi 50 tahun yang lalu. Ide di belakangnya ialah mengembangkan lagu-lagu dan musik liturgi yang berakar pada masyarakat dan budaya Indonesia.

Dalam konteks menggali khazanah budaya Indonesia itu, pantas disebutkan Majalah Basis yang merupakan upaya reflektif intelektual dalam melihat realitas sosial dan budaya di Indonesia. Dimulai oleh Pater Theodorus Dick Hartoko, Basis sampai sekarang dikenal sebagai salah satu majalah kebudayaan yang tetap bertahan dan menawarkan ide-ide kritis dan merangsang daya pikir pembacanya.

Di samping Basis, Utusan dan Rohani merupakan dua ma jalah yang dikelola oleh Provinsi Indonesia sampai sekarang. Utusan dikhususkan untuk refleksi umat awam dalam berkontribusi bagi kehidupan beriman. Sedangkan Rohani dikhususkan untuk refleksi para religius dalam menghayati hidup dan panggilan mereka. Di luar itu, masih ada Penerbit dan Percetakan Kanisius, Sanggar Prathivi dan Studio Audio Visual. Penerbit dan Percetakan Kanisius seperti media cetak lainnya menghadapi tantangan besar revolusi digital dalam komunikasi. Sanggar Prathivi yang pernah amat dikenal dengan produk sandiwara radio dan Studio Audio Visual yang dikenal dengan program-program religiusnya akhirnya kesulitan dan ditutup dalam konteks revolusi teknologi informasi komunikasi ini. Berubah dengan tuntutan zaman dan tuntutan audience dengan tetap setia pada identitas  dan tradisi panjangnya tampaknya menjadi tantangan bagi karya-karya komunikasi di zaman ini.

Meskipun diputuskan untuk memusatkan pelayanan di Jawa, keterlibatan Jesuit dalam realitas kehidupan sosial di Indonesia telah mengantar mereka untuk masuk ke wilayah-wilayah frontier dan wilayah-wilayah keprihatinan Serikat Jesus Universal. Keprihatinan Provinsi terhadap program transmigrasi menghantar Jesuit untuk berkarya di Pasir Pangarayan, Riau (1984 – 1999). Pulau Buru di Provinsi Maluku menjadi saksi pelayanan Pater Werner Ruffing dan Bruder Aloysius Juwanawihardja. Bruder Aloysius Juwanawihardja dan Bruder Martinus Hadiprayitna dikenal sebagai katekis yang menemani para tahanan politik dan akhirnya  juga orang-orang Buru asli.

Sinkronisasi keterlibatan Provinsi dengan Serikat Jesus Universal tampak dalam keikutsertaan Jesuit Indonesia di dalam Jesuit Refugee Service (JRS). JRS merupakan instrumen misi dan pelayanan Serikat Jesus Universal menanggapi fenomena pengungsi. Para pengungsi Vietnam dan Kamboja di Pulau Galang dilayani orang-orang seperti Pater Adrianus Padmaseputra dan Pater Vincentius Sugondo (1980). JRS Indonesia kemudian muncul lagi menyusul pecahnya kekerasan di Timor-Leste (1999 – 2004), Maluku (2000 – 2007)   dan Aceh (2001 – 2011). Sampai sekarang misi itu diteruskan dengan menemani, melayani dan mengadvokasi para pengungsi di daerah Bogor yang kebanyakan berasal dari Afghanistan.

Provinsi Indonesia ikut ambil bagian dalam karya pelayanan atau formasi Provinsi ataupun Regio Serikat Jesus di wilayah Asia Pasifik, dan International. Myanmar, Thai land, Kamboja, Jepang, dan Taiwan merupakan tempat di mana Serikat mengirimkan Jesuit Indonesia untuk bekerja dalam karya pendidikan dan sosial. Provinsi Indonesia juga terlibat dalam formasi frater-frater dari Myanmar dan Thai land yang belajar di STF Driyakara. Selain itu, Provinsi Indonesia juga mengirimkan orang-orangnya untuk bekerja di Italia, Timor Leste dan Micronesia. Semangat misioner yang diterima dari misionaris Belanda, Jerman dan Swiss kini dilanjutkan dengan pengiriman Jesuit Indonesia untuk kepentingan misi Serikat Universal.

Kalau membandingkan total jumlah Jesuit saat menjadi Provinsi 50 tahun yang lalu hanya ada pertambahan  6 orang Jesuit secara total. Dalam katalog Agustus 2021 ada 339 Jesuit dengan 246 imam, 74 frater dan 19 bruder. Yang mencolok ialah jumlah misionaris yang hanya ting gal terdiri dari 1 orang Belanda dan 5 orang Jerman. Jumlah karya-karya Provinsi dalam 50 Tahun ini makin banyak dan beragam. Di sini tampak peran penting, rekan berkarya awam dalam menghayati spiritualitas Ignatian untuk menjalankan karya-karya perutusan Serikat Jesus. Berkaca dari Universal Apostolic Preferences, Provinsi perlu makin melibatkan rekan awam dalam karya-karya perutusannya, membangun jejaring yang lebih luas dengan berbagai macam institusi dalam mencapai misi untuk keadilan dan rekonsiliasi. Sebelum Fransiskus Xaverius berangkat ke tanah misi, sahabatnya Ignatius Loyola membisikan satu pesan. “Pergilah. Kobarkanlah dunia!” Kita tahu kelanjutan kisahnya. Provinsi Indonesia baru saja menjalani 50 tahun pertama masa pelayanannya. Banyak api telah menyala, tak kurang pula yang padam, tetapi pesan di telinga Fransiskus Xaverius itu tetap menyala di hati para Jesuit dan rekan-rekan awam.

F. Suryanto Hadi, SJ & Bambang Alfred Sipayung, SJ

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media

Most Popular

Get The Latest Updates

No spam, notifications only about news and reflections.

News

Related Posts

Indulgensi saat Tahun Ignatian?

Selama tahun Ignatian ini, Takhta Suci memberikan berkat Indulgensi penuh. Tulisan ini merupakan terjelahan dari Benoit Malvauz. Jubileum 500 tahun pertobatan St. Ignatius dan 400

Doa Tahun Ignatian

Allah yang selalu mencinta, Kami menghadap-Mu, seraya memohon rahmat khusus di tahun Ignatian yang kami jalani, untuk mengenang pertobatan St. Ignatius Loyola. Kami mengingat kembali